Libatkan Penuh Masyarakat, Balai TN Babul Dorong Pengelolaan Kawasan Partisipatif

Sabtu, 5 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANGSAKU.CO – Bentang alam karst Maros – Pangkep di Sulawesi Selatan merupakan kompleks perbukitan karst seluas 40.000 ha, dan menjadi bentang alam tower karst terbesar kedua di dunia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi

Di dalam Kawasan konservasi khususnya, tercatat, dari data yang dihimpun Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, terdapat 33 jenis mamalia, 155 jenis burung, 31 jenis reptilia, 17 jenis amphibia, 23 jenis ikan, 41 jenis gastropoda, 6 jenis oligochaeta (cacing), 26 jenis malacostraca (Crustacea), 14 jenis arachnida (laba-laba, kalajengking, dan ketonggeng), hingga 53 jenis entognatha (artopoda) serta keanekaragaman flora endemik lainnya. Beberapa spesies pohon endemik bahkan diketahui berstatus terancam antara lain Hopea celebica (EN), Diospyros celebica (VU) dan Pterocarpus indicus (EN) namun tidak dilindungi oleh Negara.

Hal ikhwal kondisi tersebut kemudian menjadi catatan penting khususnya bagi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk merumuskan lebih lanjut bersama para pihak lainnya termasuk dari elemen masyarakat terkait sistem pengelolaan Kawasan yang berkelanjutan dan dapat merangkai kepentingan bersama dengan para pihak terkait.

Salah satu upaya yang dilakukan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dalam optimalisasi pengelolaan Kawasan khususnya untuk konservasi spesies dan ekosistem yaitu melalui kegiatan patroli dan monitoring Kawasan secara berkala melalui penggunaan aplikasi Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART) Resort Based Management (RBM).

Baca juga:  Sidak di Pasar Gede Solo, Mentan Amran Temukan Minyakita Masih Belum Sesuai Takaran

“Pengelolaan Kawasan yang berkelanjutan merupakan tanggung jawab bersama, baik itu di tingkat pengelola Kawasan, pemerintah daerah setempat, NGO hingga masyarakat sebagai pihak yang merasakan langsung manfaatnya. Atas dasar ini, monitoring Kawasan dilakukan secara partisipatif, untuk mendukung prinsip kolaborasi pengelolaan kawasan,” kata Nurhidayat selaku KTU Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Ditambahkannya, SMART RBM atau SMART Patrol ini merupakan salah satu aplikasi yang dipergunakan untuk mengelola database yang terintegrasi dengan kegiatan petugas di tingkat tapak. Sistem ini juga terhubung dengan perangkat smartphone sehingga mengefesienkan pengelolaan data hasil kegiatan yang dilakukan. Muara dari pengelolaan Kawasan yang bertanggungjawab dan dikelola secara partisipatif ini juga diharapkan mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar Kawasan tersebut.

“Di era yang sangat terbuka dan serba teknologi ini, kita harus menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan cepat, termasuk dalam pengelolaan Kawasan. Penggunaan aplikasi SMART RBM secara partisipatif ini hanyalah salah satunya. Untuk hasilnya, nantinya akan kita integrasikan ke dalam portal SiDaeng Balai TN Bantimurung Bulusaraung. SiDaeng sendiri merupakan sistem informasi data dan evaluasi milik TN Bantimurung Bulusaraung yang berbasis website sehingga dapat diakses bersama-sama oleh masyarakat umum juga dan dapat dirasakan manfaatnya langsung khususnya bagi masyarakat di sekitar kawasan” Ujar, Nurhidayat.

Baca juga:  Ditnarkoba Mabes Polri Amankan Dua Oknum TNI Bawa 75 Kilogram Shabu

Diketahui terdapat beberapa komunitas di sekitar Kawasan yang ikut serta dalam kegiatan tersebut yang merupakan kelompok binaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Menurut Ketua KPE Bantimurung, Takbir yang ikut serta yang dalam kegiatan monitoring dan patrol partisipatif ini, mengatakan bahwa posisi masyarakat khususnya yang berada di sekitar Kawasan adalah pihak yang paling berkewajiban memberikan peran terhadap pengelolaan ekosistem Kawasan karst.

Menurutnya, hal ini dikarenakan masyarakat-lah yang lebih dekat dengan ekosistem tersebut selain itu masyarakat juga yang paling merasakan dampak dari hasil pengelolaannya.

“Yang paling mengenal tempat ini adalah masyarakat, karena sejak dulu mereka tinggal disini dan hidup dari tempat ini. Jadi bagus tidaknya pengelolaan Kawasan, tentunya itu berdampak kembali ke masyarakat, sehingga itulah alasan kenapa pelibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan menjadi sangat penting,” urai Takbir.

Sebelumnya diketahui, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bersama dengan Fauna & Flora International’s Indonesia Programme (FFI’s IP) melakukan kegiatan patroli SMART di tingkat resor Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, dengan melibatkan unsur kelompok masyarakat binaan TN Bantimurung Bulusaraung.

 

Berita Terkait

Dinilai Kelewat Batas, Momen Hotman Paris Diduga Hina Profesi Wartawan Viral di Sosmed
Demi Masa Depan Anak, Ortu Rela ‘War’ Tempat Duduk Sekolah Sejak Subuh
Heboh! Istri Gugat Cerai Suami Gegara Hadiah Kantor Diberikan ke Rekan Wanita
Pria di Makassar Diduga Mengamuk dan Usir Keluarga karena Tak Diberi Uang.
Menkeu Purbaya Ogah Bangun Pusat Finansial Internasional di IKN: Tempatnya Terlalu Sepi.
Mendagri Buka Festival Fulan Fehan, Harap Perkuat Hubungan Lintas Negara
Efek Piala Dunia,Heboh Pasar Ambon Berwarna Oranye! Mama-Mama Kompak Dukung Belanda di Piala Dunia 2026.
Mapparenta Media Group Hadir di TikTok, Perluas Jangkauan Informasi Digital

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 09:35 WITA

Dinilai Kelewat Batas, Momen Hotman Paris Diduga Hina Profesi Wartawan Viral di Sosmed

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:45 WITA

Demi Masa Depan Anak, Ortu Rela ‘War’ Tempat Duduk Sekolah Sejak Subuh

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:51 WITA

Heboh! Istri Gugat Cerai Suami Gegara Hadiah Kantor Diberikan ke Rekan Wanita

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:26 WITA

Pria di Makassar Diduga Mengamuk dan Usir Keluarga karena Tak Diberi Uang.

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:38 WITA

Menkeu Purbaya Ogah Bangun Pusat Finansial Internasional di IKN: Tempatnya Terlalu Sepi.

Berita Terbaru