MAKASSAR, BANGSAKU.CO – Hutan bukan sekadar hamparan hijau. Ia adalah tubuh kehidupan itu sendiri. Di sanalah air disimpan, udara dijernihkan, pangan disemai, dan keseimbangan bumi dijaga.
Namun hari ini, hutan-hutan kita sedang berada di persimpangan sejarah: tetap menjadi sumber kehidupan, atau berubah menjadi awal dari rangkaian malapetaka ekologis.
Melalui Dialog Publik MAHADIPO (Mahasiswa di Bawah Pohon), kita membuka ruang diskusi yang jujur dan kritis tentang kondisi hutan hari ini yang terus tertekan oleh ekspansi tambang, perkebunan skala besar, pembalakan liar, hingga kebijakan yang seringkali abai pada keselamatan ruang hidup rakyat.
Banjir, longsor, krisis air, konflik agraria, dan kemiskinan struktural bukanlah bencana alam semata, melainkan buah dari krisis tata kelola hutan.
Dengan tema “Hutanku Kehidupan atau Malapetaka?”, dialog ini mengajak mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum untuk tidak lagi netral di tengah kerusakan. Kita didorong untuk memandang hutan bukan sebagai komoditas, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki hak untuk dilindungi. Hutan yang lestari adalah jaminan masa depan. Hutan yang dirusak adalah warisan bencana bagi generasi mendatang.
Hadir sebagai narasumber, Maulana Yusuf, S.Pd.,SH akan mengulas persoalan kehutanan dari perspektif hukum, keadilan ekologis, serta tanggung jawab negara. Sementara pemateri Achmad Yusran, S.Pd. dan Ute Nurul Akbar akan memperkuat diskusi dengan perspektif gerakan, pendidikan lingkungan, dan realitas lapangan kerusakan ekosistem.
Dialog ini bukan sekadar forum bicara. Ia adalah ruang kesadaran, ruang pertanyaan, sekaligus ruang keberpihakan. Karena ketika hutan tumbang, bukan hanya pohon yang roboh—tetapi peradaban manusia ikut dipertaruhkan.
Rabu, 10 Desember 2025
Lokasi: Kampus FIKK UNM, Ruang Seminar
Datanglah, duduklah di bawah pohon kesadaran, dan tentukan sikap!!!!!
Apakah kita membela hutan sebagai sumber kehidupana
atau membiarkannya berubah menjadi malapetaka?








































