MAMUJU, BANGSAKU.CO — Formatur Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Olahraga Sulawesi Barat (HMO Sulbar), Intje Muh Abudzar, melayangkan kritik keras terkait pelaksanaan pertandingan catur nasional yang digelar di Mamuju.
Ia menilai adanya indikasi kurangnya transparansi dan dugaan praktik tidak sehat antara pihak penyelenggara dan Ketua Percasi Sulawesi Barat, Muhammad Jayadi.
Pertanyakan Transparansi Anggaran
Abudzar menyoroti tidak adanya kejelasan mengenai alokasi anggaran kegiatan hingga hari pelaksanaan. Menurutnya, Ketua Percasi Sulbar, Muhammad Jayadi, seharusnya memberikan informasi terbuka terkait penggunaan dana demi menghindari spekulasi publik.
Ia menilai minimnya keterbukaan tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai profesionalitas dan tata kelola penyelenggaraan. Terlebih, kegiatan ini membawa nama daerah dan melibatkan peserta dari berbagai wilayah.
“Kami tidak menuduh, tetapi ketika tidak ada transparansi, ketika anggaran tidak dijelaskan, ketika keputusan diambil secara tertutup—maka wajar jika muncul kecurigaan di tengah masyarakat olahraga,” tegas Abudzar.
Soroti Etika Kepemimpinan Ketua Percasi Sulbar
Dalam pernyataannya, Abudzar juga menekankan pentingnya akuntabilitas dan sikap terbuka dari seorang pemimpin organisasi olahraga. Ia menilai bahwa Muhammad Jayadi sebagai Ketua Percasi Sulbar seharusnya menunjukkan tanggung jawab publik terkait pelaksanaan event.
Menurutnya, Percasi bukan lembaga pribadi, melainkan organisasi resmi yang memikul amanah pembinaan prestasi catur Sulawesi Barat. Karena itu, setiap kebijakan dan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka agar nama baik organisasi dan daerah tidak tercoreng.
“Jika Ketua Percasi tidak mampu memberi kejelasan mengenai anggaran, ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini menyangkut integritas lembaga,” ujarnya.
Desak Audit dan Klarifikasi Terbuka
Menutup pernyataannya, Abudzar mendesak Percasi Sulbar untuk segera memberikan klarifikasi resmi terkait pelaksanaan event tersebut. Ia juga mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh, termasuk kemungkinan audit internal maupun eksternal, demi menjaga marwah organisasi dan mencegah meningkatnya keraguan publik.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan pihak manapun, melainkan untuk memperkuat budaya olahraga yang lebih profesional, sehat, dan bebas dari praktik yang merugikan citra Sulawesi Barat.
“Jika persoalan ini terus berlarut dan tidak ada penyelesaian dari pihak penyelenggara maupun Ketua Percasi Sulbar, maka kami akan lebih tegas menuntut kejelasan,” tutupnya.
(kdp)








































