PAREPARE, BANGSAKU.CO – Sampah bukan sekadar masalah estetika, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Hal itu menjadi pesan utama yang disampaikan Muhammad Zuhair Yasin, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 114 Universitas Hasanuddin (Unhas), saat memberikan edukasi di kawasan wisata “Pantaiku,” Kelurahan Cappagalung, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sabtu (26/7/2025).
Dalam paparannya, Zuhair menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat memicu berbagai penyakit. Sampah organik yang menumpuk menjadi sarang bakteri, jamur, dan virus, penyebab iritasi kulit, gatal, hingga infeksi jamur akibat kontak langsung atau air yang tercemar.
“Lalat, tikus, dan kecoa yang berkembang biak di sampah dapat membawa kuman ke makanan dan minuman, menimbulkan penyakit pencernaan seperti diare, disentri, tipes, bahkan kolera,” jelasnya.
Zuhair juga memperingatkan bahaya pembakaran sampah secara terbuka yang menghasilkan polutan beracun seperti dioksin, furan, dan partikel PM2.5. Zat ini dapat memicu gangguan pernapasan, termasuk asma dan bronkitis. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti baterai bekas bahkan bisa mencemari tanah dan air, masuk ke rantai makanan, dan berisiko menyebabkan keracunan atau penyakit kronis.
Tidak kalah penting, tumpukan sampah menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus demam berdarah dengue (DBD).
Menyikapi hal itu, Zuhair mengajak masyarakat pesisir untuk menerapkan prinsip 3R — Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Ia menekankan pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sebagai langkah awal pencegahan.
“Langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan berdampak besar bagi lingkungan bersih dan sehat di masa depan,” tegasnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga yang hadir. Mereka mengaku lebih memahami hubungan antara kebersihan lingkungan dan kesehatan, serta termotivasi untuk mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.
(*)








































