Oleh : Teguh Esa Bangsawan DJ, S,Hum
Mahasisiwa Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Indonesia
OPINI, BANGSAKU.CO – Strukturalisme dan postrukturalisme. Mite adalah sesuatu yang mengisahkan sebuah cerita dan menjadi bagian dari strukturalisme, menurut pendapat Levi- Strauss strukturalisme itu adalah bahasa atau tatanan kode yang menjadi bagian dari antropologi struktural untuk menyampaikan pesan sehingga mempermudah untuk komunikasi khususnya dalam bentuk kajian kebudayaan itu sendiri. Ada juga pandangan seorang ahli bahasa yang terkenal dengan teori strukturalisme yaitu Ferdinand De Saussure, menurutnya, tiap Bahasa itu memiliki struktur yang baku,rapi dan solid, ada aturan yang mengikat untuk setiap tindak Bahasa. Maka lahirlah morfologi, gramatika, sintaksis.
konsep pokok strukturalisme Levi-Strauss –
1. Struktur :memahami gejala kebudayaan yang diteliti,berada di kedalaman (empiris)
2. Model yang dihasilkan dari relasi-relasi yang saling berhubungan atau saling mempengaruhi.
3. Struktur luar adalah relasi antar unsur yang dibangun atas ciri-ciri empiris atau pengalaman panca indra.
4. Strukutur dalam adalah struktur yang dibangun berdasarkan struktur luar tapi sisi emprisnya tidak tampak.
5. Ciri struktur adanya relasi dan transformasi adalah berubahnya sesuatu tanpa proses. Strukturalisme
1. Manusia memiliki “Structuring”. Menstrukturkan, Menyusun sebuah struktur atau menempel terhadap suatu struktur atas gejala-gejala yang dihadapi.
2. Struktur permukaan : Mitos, Kostum, Sistem kekerabatan
3. Struktur dalam ; Tidak disadari, karena perlu diteliti lebih dalam.
Untuk memahami perkembangan gejala atau fenomena Terlebih dahulu harus diketahui relasi-relasinya dengan fenomena lain pada waktu tertentu.
Sedangkan post-strukutralisme menurut pandangan filsuf yaitu Jacques Derrida dia mengkritik kinerja struktur, lebih tepatnya “dekonstruksi” terhadap struktur, dimana ada makna yang lebih dari struktural sehingga struktur tidak stabil, lebih menekankan mutu (fluiditas) makna dan peran kekuasaan dalam wacana dan struktur masih bersifat ambiguitas dalam artian lebih dari satu artinya (lebih dari satu makna) dan juga mengalami oposisi biner dalam artian secara sederhana ingin membagi dua dunia atau pandangan klasifikasi secara struktural.dan menurut post-strukuralisme strukutral itu bukan merupakan asas tunggal dalam sebuah makna.
Seperti diketahui dalam mata kuliah Kapita Selekta Sejarah Filsafat Barat, ada juga tokoh filsuf yang membahas peranan bahasa seperti Levi’s-Strauss, Ferdinand De Saussure (strukturalisme) sedangkan post – strukturalisme mempunyai tokoh seperti Jacques Derrida.
L








































