Opini : Kekuasaan “Yang Maha” Benar

Senin, 19 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegratim icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini : Kekuasaan “Yang Maha” Benar

Oleh: Fajlurrahman Jurdi

PDAM

OPINI, BANGSAKU.CO – Dalam keadaan yang tak dikehendaki, kadang kekuasaan ingin menjadi mitos. Di banyak tempat, untuk mengukuhkan mitologi itu, kekuasaan membangun patung dan merumuskan “kurikulum”, dan dalam berbagai kesempatan, ia membeli sebagian tokoh agama untuk menopang legitimasi kekuasaannya.

ADVERTISEMENT

HOTELPREMIER

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks ini, kekuasaan butuh mitologi pasca ia berkuasa. Untuk membangun mitologi, kekuasaan membutuhkan rumus-rumus kebenaran, dan kebenaran yang paling penting adalah bagaimana ia bisa menjadi satu-satunya sumber bagi seluruh pikiran dan tindakan dalam lingkungan yang ia kuasai. Maka ia tak dapat dipersalahkan, yang dalam kalimat Louis XIV saat ia ucapkan dihadapan parlemen Paris pada 13 April 1655, L’État, c’est moi, Negara adalah aku. “Negara” yang publik, menyatu bersama “aku” yang personal. Maka, “Negara menjadi aku, dan aku menjadi Negara”. Ia berkuasa selama 72 tahun, dan sebelum meninggal, kata Louis de Rouvroy yang membela Louis, ia mengucapkan: “Je m’en vais, mais l’État demeurera toujours” (saya akan pergi, tetapi negara akan tetap ada).

Mistisisme kekuasaan sebagai yang “maha baik”, telah diletakkan secara fondasional oleh Agustinus. Sang pendeta mengunci rapat, bahwa; Citizens have the duty to obey their political leaders regardless of whether the leader is wicked or righteous. There is no right of civil disobedience”. Betapa sakralitas, mistisisme dan tak pernah salah itu merupakan milik tunggal sang penguasa.

Baca juga:  Opini : Strukturalisme dan Post-strukturalisme

Tetapi historical dan pendasaran argumen Agustinus adalah doktrin teologis, tentang bersatunya “dunia sini dan dunia sana”, yang diperintah oleh dua mahluk titisan Tuhan, Raja dan Pendeta. Keduanya adalah satu yang tak terpisahkan. Raja mengurus “dunia sini”, sedangkan pendeta mengurus “dunia sana”. Maka, apa yang dilakukan oleh Raja adalah melaksanakan kehendak Tuhan “disini”, sedangkan sang pendeta mengatur kehendak Tuhan “disana”.

Titik temu yang kompatible antara kehendak sang dei (tuhan) dan ambisi dunia yang tercetak dalam dada sang raja, menyebabkan “ucapan” dan dalil-dalil politik yang imanen dari sang raja, menjadi transenden ketika kehendak Tuhan mewujud bersamanya. “Aku mengucapkan apa yang tuhan kehendaki, dan aku adalah sang penerjemah keinginan Tuhan yang transenden”.

Saat ia merasa menjadi bagian dari Tuhan, maka dalam mitologi jawa, sang penguasa menyebut dirinya; “Ingsun”. “Ingsun” adalah pengganti kata “aku” yang semula “profan” menjadi transenden. “Ingsun” adalah hakikat Tuhan dalam realitas, sebab itu, ia punya “martabat”. Dengan “martabat” itu, sang “ingsun” adalah “maha manusia”, yakni manusia yang bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Tuhan. Pada konteks ini, ia menjadi “maha benar”, sebab perbuatan manusia adalah juga perbuatan Tuhan.

Baca juga:  Dzulfikar Ahmad Tawalla: Anak Biologis dan Ideologis Muhammadiyah

Belakangan ini, sebagian penguasa, hendak meletakkan fondasi mitos tentang dirinya. Keinginan untuk menjadi “maha manusia” cukup besar, meskipun terhalang oleh sistem. Untuk memperpanjang usia dan rentang kendali kuasa, mereka rata-rata menyiapkan pengganti yang “patuh, taat, dan setia” untuk melanjutkan rencana yang ia letakkan. Meskipun, rencana dan fondasi yang diletakkan penuh intrik, skenario dan ranjau kejahatan.

Bagi “ingsun” ia selalu benar. Bagi Louis, “Negara adalah Dia”. Sementara Agustinus menghendkaki “the duty to obey” bagi warga Negara. Jika dirangkum, bukankah ini semua sebenarnya adalah mengokohkan dalil, bahwa penguasa adalah “maha manusia” yang tak pernah salah?. Dalil ini sangat terkenal dengan istilah; “The king can do no wrong”. Raja tak dapat dipersalahkan?. Jika tak dapat dipersalahkan, tidak kah ia “maha benar”?. Bukankah dalam teologi, yang maha benar itu hanya Tuhan?.

Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

Berita Terkait

Opini : Usai Debat Capres, Hukum harus Tegas
Opini : Strukturalisme dan Post-strukturalisme
Opini : Mas Menteri Nadiem Gagas Marketplace Guru, Guru Seperti Barang Dagangan?
PERSPEKTIF: Hakekat Ilmu dan Kebenaran
OPINI : Prinsip Kepemimpinan Muhammadiyah
Dzulfikar Ahmad Tawalla: Anak Biologis dan Ideologis Muhammadiyah
Opini : Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan : Stop Pernikahan terhadap Anak

Berita Terkait

Senin, 22 Juli 2024

Wawancara dengan Tim Penyusun Panduan Pembangunan Daerah Prabowo-Gibran, Danny Pomanto Usul Pendataan Program Makan Gratis Berbasis RT/RW

Senin, 22 Juli 2024

Indira Yusuf Ismail Kenalkan Produk UMKM Makassar ke Iriana Jokowi dan Wury Ma’ruf Amin

Minggu, 21 Juli 2024

Di PLN Mobile Herald Run, Danny Ajak Media Cerdaskan Masyarakat dengan Konten Berkualitas

Minggu, 21 Juli 2024

TV Milik Prabowo, Garuda TV Promosikan Festival F8 Makassar

Sabtu, 20 Juli 2024

Ilham Azikin Akui Kepemimpinan Danny Pomanto

Sabtu, 20 Juli 2024

Danny Pomanto: Purna Praja Beri Kontribusi Positif untuk Pembangunan Kota Makassar

Jumat, 19 Juli 2024

Lampaui Target, Total Investasi di Kota Makassar Capai Rp 5,89 T

Jumat, 19 Juli 2024

Danny Pomanto Komitmen Perkuatan dan Pembenahan Digitalisasi Kepegawaian Daerah

Berita Terbaru