Ketika Limbah Bertemu Limbah : Masa Depan yang Tumbuh dari Sudut Kota

Senin, 19 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR, BANGSAKU.CO – Di sebuah lorong padat Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala, Makassar, masa depan pengelolaan limbah Indonesia sedang diuji bukan di laboratorium teknologi hijau, melainkan di tangan seorang warga bernama Darwin.

Berangkat dari keseharian yang bersentuhan langsung dengan tumpukan sampah kota,

Darwin merakit instalasi sederhana berbasis drum besi. Plastik-plastik yang selama ini berakhir di selokan dan sungai dialihkan ke dalam drum tertutup, lalu dipanaskan bukan dengan bahan bakar konvensional, melainkan oli bekas limbah lain yang kerap mencemari tanah dan air permukiman padat.

Oli bekas dimanfaatkan sebagai sumber panas awal. Saat suhu meningkat, plastik mengalami degradasi termal dan melepaskan uap hidrokarbon yang dialirkan melalui pipa pendingin rakitan.

Baca juga:  Wali Kota Munafri dan Wamenag RI Hadiri Mukernas Permabudhi di Makassar

Uap tersebut mengembun menjadi cairan menyerupai minyak, sementara residu padat tertinggal di dalam drum.

Seluruh proses berlangsung dengan peralatan terbatas, mengandalkan keterampilan lokal dan pengetahuan otodidak.

Apa yang dilakukan Darwin mencerminkan logika bertahan warga kota: ketika sistem pengelolaan sampah formal belum sepenuhnya hadir, solusi lahir dari improvisasi.

Dua jenis limbah dipertemukan dalam satu siklus pemanfaatan, dengan tujuan sederhana mengurangi sampah yang mencemari lingkungan Tompobalang.

Namun, eksperimen ini juga membuka pertanyaan serius. Pemanasan plastik tanpa teknologi pengendali emisi berisiko menghasilkan asap berbahaya dan senyawa toksik.

Tanpa standar keselamatan, pendampingan teknis, dan pengawasan lingkungan, praktik yang lahir dari niat baik dapat memindahkan masalah dari sampah padat ke polusi udara.

Baca juga:  Plt Kadis Kominfo Pimpin Rapat Evaluasi dan Rencana Kerja 2024

Kisah Darwin di Tompobalang bukan sekadar cerita inovasi individual. Ia adalah potret ketimpangan tata kelola limbah perkotaan.

Kreativitas warga menunjukkan daya lenting masyarakat, tetapi sekaligus menegaskan tanggung jawab negara menghadirkan teknologi yang aman, kebijakan yang adil, dan sistem pengelolaan limbah yang melindungi kesehatan publik serta lingkungan hidup.

Di sudut kecil Bontoala, masa depan sedang diraba—pelan, berisiko, namun jujur oleh warga yang bekerja di ruang kosong kebijakan.

 

(*)

Berita Terkait

Wawali Makassar Aliyah Mustika Ilham Resmi Buka Sao Raja Tana Daeng Festival 2026
Wakil Wali Kota Makassar Sampaikan Jawaban Wali Kota atas Pandangan Umum Fraksi DPRD Secara Daring
Sekda Makassar Tegaskan Hibah KONI Sah, Rasionalkan Dasar Hukum dan Mekanismenya
Satu-satunya Model Sofa dari Internet Ada di Makassar, RRR.Sofa Pakai Bahan Kualitas Premium
Satpol PP Makassar Kedepankan Pendekatan Humanis Tata Eks Stadion Mattoanging
Munafri Jamu Coach Darije, Semangat Kebangkitan PSM Makassar Kembali Menggelora
Appi Tinjau Lorong Kerung-Kerung, Pastikan Air PDAM Kembali Mengalir ke Rumah Warga
Manggala Jadi Titik Keempat Jelajah Sampah 2026, Warga Didorong Pilah Sampah dari Sumber

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:42 WITA

Wakil Wali Kota Makassar Sampaikan Jawaban Wali Kota atas Pandangan Umum Fraksi DPRD Secara Daring

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:51 WITA

Sekda Makassar Tegaskan Hibah KONI Sah, Rasionalkan Dasar Hukum dan Mekanismenya

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:42 WITA

Satu-satunya Model Sofa dari Internet Ada di Makassar, RRR.Sofa Pakai Bahan Kualitas Premium

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:15 WITA

Satpol PP Makassar Kedepankan Pendekatan Humanis Tata Eks Stadion Mattoanging

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:47 WITA

Munafri Jamu Coach Darije, Semangat Kebangkitan PSM Makassar Kembali Menggelora

Berita Terbaru

KECAMATAN PANAKKUKANG

Camat Panakkukang: Kebakaran Sampah di Jalan Leimena Dilakukan ODGJ

Selasa, 21 Jul 2026 - 15:15 WITA