Opini : Ketika Perempuan Mengambil Pangkal Peradaban: Gelombang Baru Kepemimpinan RT/RW

Selasa, 9 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto : Mashud Azikin. Istimewa

Keterangan Foto : Mashud Azikin. Istimewa

Oleh : Mashud Azikin

OPINI, BANGSAKU.CO – Ada sebuah kalimat yang terdengar sederhana tetapi memuat getaran peradaban: “Perempuan adalah rahim peradaban.” Kalimat itu hari ini menemukan cerminnya di Kota Makassar. Di tengah kontestasi pemilihan ketua RT/RW—pemilihan akar rumput terbesar dalam satu dekade terakhir—jumlah calon perempuan meningkat tajam. Di banyak kelurahan, perempuan bukan lagi penonton, tetapi penantang; bukan sekadar pendukung, tetapi pemegang visi.

Mereka datang dengan keberanian yang tenang, menawarkan gaya kepemimpinan yang berbeda dari tradisi panjang politik kampung yang selama ini didominasi laki-laki.

Perempuan yang Melahirkan, Kini Mengelola Peradaban Kecil di Tingkat RT/RW

Jika rahim adalah tempat peradaban manusia bermula, maka ruang RT/RW adalah tempat peradaban itu diuji: dari soal sampah, keamanan kampung, bantuan sosial, sampai solidaritas warga. Pemilihan ketua RT/RW bukan sekadar seremonial administratif. Ia adalah ruang paling dekat antara warga dengan negara.

Dan menariknya, di pemilihan tahun ini perempuan masuk dengan sangat percaya diri.

Di Kelurahan Biring Romang, misalnya, beberapa RW dan RT diisi oleh kandidat perempuan dengan dukungan warga yang kuat. Mereka membawa rekam jejak sebagai penggerak posyandu, pengelola bank sampah, pendamping UMKM, motor penggerak kegiatan sosial, hingga pendamai konflik kecil di lorong-lorong.

Perempuan sudah lama bekerja untuk kampung; kali ini mereka menagih legitimasi.

Ketika Empati Bertemu Ketegasan

Kepemimpinan perempuan selalu diasosiasikan dengan kelembutan. Padahal yang membuat perempuan efektif bukan sekadar empati, tetapi kemampuan melihat detail dan ketekunan menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Dua hal yang sangat dibutuhkan di tingkat RT/RW.

Masalah sampah?
Perempuan sudah lama menjadi motor pemilahan, bank sampah, eco enzyme, dan edukasi lingkungan.

Baca juga:  OPINI : Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah

Masalah bantuan sosial?
Perempuan selama ini yang tahu siapa yang benar-benar membutuhkan.

Ketertiban kampung?
Mereka yang sering menenangkan warga, merajut komunikasi, dan mencairkan ketegangan.

Di Makassar, RT/RW bukan jabatan prestisius. Ini jabatan sibuk, lelah, dan sering tidak digaji sesuai kerja. Karena itu ketika perempuan maju di kontestasi ini, mereka maju bukan untuk gengsi, tetapi karena kepedulian.

Kepedulian itu—jika diberi ruang—berubah menjadi ketegasan.

Fenomena Baru: Politik Kampung yang Lebih Inklusif

Pemilihan RT/RW 2025 memperlihatkan pergeseran budaya politik di Makassar. Warga tidak lagi terpaku pada citra “pemimpin laki-laki harus tegas”. Hari ini banyak lorong memilih ketegasan yang lahir dari pemahaman, bukan dari suara keras.

Calon perempuan yang bertarung membawa isu-isu penting yang selama ini tidak dianggap agenda kepemimpinan:

lingkungan hidup,

pendidikan anak,

keamanan berbasis solidaritas,

kemandirian ekonomi keluarga,

kesehatan dan kesejahteraan warga.

Mereka membawa politik kembali ke akar: keseharian.

Dalam banyak TPS pemilihan RT/RW, ibu-ibu datang dengan semangat seperti pemilu besar. Ada yang berkata, “Kalau perempuan yang maju, saya yakin pekerjaan lorong lebih rapi.” Keyakinan seperti ini tumbuh karena warga tahu kualitas kerja perempuan—mereka melihatnya setiap hari.

Melampaui Kuota, Mendobrak Budaya

Keterlibatan perempuan di kontestasi RT/RW Makassar tidak hadir karena aturan kuota atau paksaan birokrasi. Ia lahir sebagai kebutuhan.

Kompleksitas kota, terutama menuju target Makassar Bebas Sampah 2029, membutuhkan gaya kepemimpinan yang sabar, teliti, dan berorientasi pada perubahan perilaku warga. Dan perempuan punya keunggulan di sana.

Baca juga:  Opini : Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan : Stop Pernikahan terhadap Anak

Perubahan sosial besar tidak dimulai di gedung DPR, tapi di lorong-lorong sempit tempat perempuan lebih paham masalah warganya.

Ketika perempuan memimpin RT/RW, peradaban kecil itu—peradaban kampung—menjadi lebih manusiawi.

Perempuan Memimpin Karena Mereka Sudah Lama Bekerja

Kita sering membayangkan kepemimpinan sebagai panggung besar. Padahal kepemimpinan pertama-tama tumbuh dari kerja yang tidak terlihat.

Perempuan Makassar sudah lama memimpin:

memimpin rumah,

memimpin arisan,

memimpin posyandu,

memimpin gerakan kebersihan,

memimpin pelatihan eco enzyme,

memimpin gotong royong,

memimpin krisis kecil keluarga.

Yang berubah hari ini hanyalah satu hal: mereka akhirnya mendapat panggung formal. Surat suara hari ini mencatat kerja puluhan tahun yang sebelumnya tidak dihitung sebagai kepemimpinan.

Peradaban Akan Tumbuh Kuat Jika Akar Rumput Dipimpin dengan Hati

“Perempuan adalah rahim peradaban” bukan pujian berlebihan. Itu adalah pengakuan bahwa perempuan memahami dasar-dasar kehidupan: merawat, menjaga, memperbaiki, membangun ulang.

Ketika perempuan memimpin RT/RW, mereka tidak hanya menjalankan tugas administrasi. Mereka mengelola peradaban kecil yang menentukan kualitas kota. Mereka membawa politik ke bentuk paling murni: pelayanan.

Dan Makassar sedang memasuki babak baru: babak ketika kepemimpinan perempuan di akar rumput bukan lagi pengecualian, tetapi bagian dari wajah baru kota ini.

Jika peradaban lahir dari rahim perempuan, maka sudah selayaknya perempuan diberi ruang untuk mengelola peradaban yang mereka bantu lahirkan.
Dan hari ini, melalui pemilihan RT/RW, Makassar sedang menunjukkan bahwa masa depan kota mungkin justru tumbuh dari tangan-tangan perempuan.

Bukan hanya karena mereka layak, tetapi karena kota ini membutuhkannya.

Berita Terkait

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar
Guru La Side Menghidupkan “Sulo” dari Bumi Latemmamala
OPINI, Kartini Hari Ini : Mengolah Sampah, Menanam Masa Depan Oleh : Mashud Azikin
Ferry Tass Ukir Momentum: Dua Amanah Negara Diselesaikan dalam Satu Hari dari Misi Energi di Bali Hingga Promosi Wakajati Sulut
OPINI : Ketika Plastik Mahal, Alam Mengingatkan: Saatnya Kembali ke Material Ramah Lingkungan
OPINI : Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah
SOPIR PRIBADI Oleh : Mustamin Raga
Becak Kosong di Ujung Senja : Ikhtiar, Takdir, dan Kesunyian yang Mengajarkan Syukur, Penulis: Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si, Dt. Toembidjo

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 23:55 WITA

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:25 WITA

Guru La Side Menghidupkan “Sulo” dari Bumi Latemmamala

Selasa, 21 April 2026 - 10:11 WITA

OPINI, Kartini Hari Ini : Mengolah Sampah, Menanam Masa Depan Oleh : Mashud Azikin

Selasa, 14 April 2026 - 09:40 WITA

Ferry Tass Ukir Momentum: Dua Amanah Negara Diselesaikan dalam Satu Hari dari Misi Energi di Bali Hingga Promosi Wakajati Sulut

Sabtu, 11 April 2026 - 17:28 WITA

OPINI : Ketika Plastik Mahal, Alam Mengingatkan: Saatnya Kembali ke Material Ramah Lingkungan

Berita Terbaru