Opini : Mas Menteri Nadiem Gagas Marketplace Guru, Guru Seperti Barang Dagangan?
Oleh : Rizal
(Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Bosowa Makassar)
OPINI, BANGSAKU.CO – Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan Indonesia telah dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah yang kompleks. Dari kualitas infrastruktur yang tidak merata, guru dengan kualifikasi yang berbeda-beda, hingga kesenjangan akses pendidikan di berbagai wilayah di negeri ini. Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, telah berusaha mewujudkan perubahan melalui berbagai inisiatif inovatif. Salah satunya adalah gagasan menciptakan sebuah marketplace untuk guru.
Namun, ide ini tidak disambut baik oleh sebagian pihak. Banyak guru merasa seolah menjadi barang dagangan di pasar online yang dibuat oleh Nadiem. Mereka merasa, profesinya sebagai pendidik seharusnya tidak diperlakukan seperti produk yang bisa diperjualbelikan dalam sebuah sistem pasar. Hal ini menunjukkan adanya resistensi terhadap transformasi digital dalam bidang pendidikan, yang bukan tanpa alasan.
Pada satu sisi, gagasan ini memiliki potensi besar dalam mengatasi beberapa masalah utama di bidang pendidikan Indonesia. Sebuah marketplace bisa menjadi platform yang Dari sudut pandang positif, Marketplace Guru memberi calon guru peluang yang lebih besar untuk memasuki pasar kerja. Dengan sistem ini, calon guru dapat menunjukkan kualifikasi dan pengalaman mereka secara online dan diakses oleh berbagai sekolah dan institusi pendidikan yang berpotensi menjadi tempat mereka bekerja. Konsep ini sejalan dengan tren global dalam digitalisasi pekerjaan dan layanan, dan tentunya dapat memberikan fleksibilitas dan akses yang lebih luas untuk calon guru.
Di sisi lain, perasaan guru sebagai ‘barang dagangan’ menunjukkan bahwa ada aspek-aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Guru bukanlah sekedar ‘produk’ yang bisa dibeli dan dijual. Mereka adalah profesional yang memiliki peran penting dalam membentuk masa depan generasi mendatang. Mereka perlu dihargai dan dihormati, bukan diperlakukan sebagai barang.
Nadiem Makarim, sebagai pemimpin di bidang pendidikan, perlu memperhatikan sentimen ini dan mencari cara untuk menjembatani jurang antara inovasi dan nilai-nilai tradisional dalam pendidikan. Ia perlu merumuskan strategi yang bisa memastikan bahwa inovasi ini tidak menghilangkan integritas dan martabat profesi guru.
Dalam era digital ini, transformasi dan inovasi memang penting. Namun, perubahan tersebut harus selalu memperhatikan dan menghormati kepentingan dari semua pihak yang terlibat, termasuk guru. Sebagai negara yang berada dalam proses pembangunan, Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi pendidikannya tidak hanya terfokus pada efisiensi, tetapi juga pada penghargaan terhadap profesi yang menjadi tulang punggung sistem pendidikan di Indonesia.








































