Opini : Mas Menteri Nadiem Gagas Marketplace Guru, Guru Seperti Barang Dagangan?

Kamis, 1 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini : Mas Menteri Nadiem Gagas Marketplace Guru, Guru Seperti Barang Dagangan?

Oleh : Rizal

(Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Bosowa Makassar)

OPINI, BANGSAKU.CO – Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan Indonesia telah dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah yang kompleks. Dari kualitas infrastruktur yang tidak merata, guru dengan kualifikasi yang berbeda-beda, hingga kesenjangan akses pendidikan di berbagai wilayah di negeri ini. Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, telah berusaha mewujudkan perubahan melalui berbagai inisiatif inovatif. Salah satunya adalah gagasan menciptakan sebuah marketplace untuk guru.

Namun, ide ini tidak disambut baik oleh sebagian pihak. Banyak guru merasa seolah menjadi barang dagangan di pasar online yang dibuat oleh Nadiem. Mereka merasa, profesinya sebagai pendidik seharusnya tidak diperlakukan seperti produk yang bisa diperjualbelikan dalam sebuah sistem pasar. Hal ini menunjukkan adanya resistensi terhadap transformasi digital dalam bidang pendidikan, yang bukan tanpa alasan.

Baca juga:  PERSPEKTIF: Hakekat Ilmu dan Kebenaran

Pada satu sisi, gagasan ini memiliki potensi besar dalam mengatasi beberapa masalah utama di bidang pendidikan Indonesia. Sebuah marketplace bisa menjadi platform yang Dari sudut pandang positif, Marketplace Guru memberi calon guru peluang yang lebih besar untuk memasuki pasar kerja. Dengan sistem ini, calon guru dapat menunjukkan kualifikasi dan pengalaman mereka secara online dan diakses oleh berbagai sekolah dan institusi pendidikan yang berpotensi menjadi tempat mereka bekerja. Konsep ini sejalan dengan tren global dalam digitalisasi pekerjaan dan layanan, dan tentunya dapat memberikan fleksibilitas dan akses yang lebih luas untuk calon guru.

Di sisi lain, perasaan guru sebagai ‘barang dagangan’ menunjukkan bahwa ada aspek-aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Guru bukanlah sekedar ‘produk’ yang bisa dibeli dan dijual. Mereka adalah profesional yang memiliki peran penting dalam membentuk masa depan generasi mendatang. Mereka perlu dihargai dan dihormati, bukan diperlakukan sebagai barang.

Baca juga:  Opini : Benarkah Kita Merdeka?

Nadiem Makarim, sebagai pemimpin di bidang pendidikan, perlu memperhatikan sentimen ini dan mencari cara untuk menjembatani jurang antara inovasi dan nilai-nilai tradisional dalam pendidikan. Ia perlu merumuskan strategi yang bisa memastikan bahwa inovasi ini tidak menghilangkan integritas dan martabat profesi guru.

Dalam era digital ini, transformasi dan inovasi memang penting. Namun, perubahan tersebut harus selalu memperhatikan dan menghormati kepentingan dari semua pihak yang terlibat, termasuk guru. Sebagai negara yang berada dalam proses pembangunan, Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi pendidikannya tidak hanya terfokus pada efisiensi, tetapi juga pada penghargaan terhadap profesi yang menjadi tulang punggung sistem pendidikan di Indonesia.

 

Berita Terkait

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar
Guru La Side Menghidupkan “Sulo” dari Bumi Latemmamala
OPINI, Kartini Hari Ini : Mengolah Sampah, Menanam Masa Depan Oleh : Mashud Azikin
Ferry Tass Ukir Momentum: Dua Amanah Negara Diselesaikan dalam Satu Hari dari Misi Energi di Bali Hingga Promosi Wakajati Sulut
OPINI : Ketika Plastik Mahal, Alam Mengingatkan: Saatnya Kembali ke Material Ramah Lingkungan
OPINI : Dari TPA ke Energi dan Destinasi: Strategi Makassar Keluar dari Darurat Sampah
SOPIR PRIBADI Oleh : Mustamin Raga
Becak Kosong di Ujung Senja : Ikhtiar, Takdir, dan Kesunyian yang Mengajarkan Syukur, Penulis: Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si, Dt. Toembidjo

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 23:55 WITA

Dari Altar Kesadaran Menuju Lorong Hijau: Membumikan Pertobatan Ekologis di Kota Makassar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:25 WITA

Guru La Side Menghidupkan “Sulo” dari Bumi Latemmamala

Selasa, 21 April 2026 - 10:11 WITA

OPINI, Kartini Hari Ini : Mengolah Sampah, Menanam Masa Depan Oleh : Mashud Azikin

Selasa, 14 April 2026 - 09:40 WITA

Ferry Tass Ukir Momentum: Dua Amanah Negara Diselesaikan dalam Satu Hari dari Misi Energi di Bali Hingga Promosi Wakajati Sulut

Sabtu, 11 April 2026 - 17:28 WITA

OPINI : Ketika Plastik Mahal, Alam Mengingatkan: Saatnya Kembali ke Material Ramah Lingkungan

Berita Terbaru